Kebersamaan tak dapat ditukar oleh apapun...

Kebersamaan tak dapat ditukar oleh apapun...
Keceriaan diAmbarawa

Senin, 19 Desember 2011

Numpang ngeksis narsis...





Makalah Manajemen Konflik

Makalah Manajemen Konflik
Mata Kuliah : Konsep Konflik dalam Manajemen Keperawatan
Dosen Pengampu  : Ns.Andriyani Mustika N,S.Kep dan Tim




Disusun Oleh :
Kelompok IV
1.      Siti Mursidah Ulfah     SK.109.173
2.      Siti Mutmainah            SK.109.174
3.      Suprapto AN                SK.109.186
4.      Suryadi                         SK.109.187
5.      Ulya Alifa                    SK.109.199
6.      Umi Achsaniyatul F     SK.109.200
7.      Wiwik Fitrianingsih     SK.109.210
8.      Zahra Azzuhra             SK.109.217




PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KENDAL
2011





KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah. SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya serta memberikan perlindungandan kesehatan sehingga penulis dapat menyusun makalah dengan judul ”Makalah Manajemen Konflik.Dimana makalah ini sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas modul Manajemen Keperawatan I.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selama penyusunan makalah ini penulis banyak  menemui kesulitan dikarenakan keterbatasan  referensi dan keterbatasan penulis sendiri. Dengan adanya kendala dan keterbatasan yang dimiliki penulis maka penulis berusaha semaksimal mungkin untuk menyusun makalah dengan sebaik-baiknya.
Dalam kesempatan ini tidak lupa penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini, diantaranya :
1.      Ayah dan Bunda,yang senantiasa memberikan support.
2.      Hj. Kunsianah, S.Pd, M.Kes sebagai Ketua STIKES Kendal
3.      Ns. Andriyani Mustika N, S.Kep sebagai koordinator dosen pengampu Modul Manajemen Keperawatan I
4.      Teman-teman kelompok IV
Sebagai manusia penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi perbaikan yang lebih baik dimasa yang akan datang.
Akhirnya semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya, Amin.



                                                                                                  Kendal, 20  Desember 2011


                                                                                                                Penyusun
BABI
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang

Dalam sebuah organisai, pekerjaan individual maupun sekelompok pekerja
saling terkait dengan pekerjaan pihak-pihak lain. Ketika suatu konflik muncul di
dalam sebuah organisasi, penyebabnya selalu diidentifikasikan sebagai komunikasi
yang kurang baik. Demikian pula ketika suatu keputusan yang buruk dihasilkan,
komunikasi yang tidak efektif selalu menjadi kambing hitam.
Para manajer bergantung kepada ketrampilan berkomunikasi mereka dalam
memperoleh informasi yang diperlukan dalam proses perumusan keputusan,
demikian pula untuk mensosialisasikan hasil keputusan tersebut kepada pihak-pihak
lain.
Riset membuktikan bahwa manajer menghabiskan waktu sebanyak 80 persen
dari total waktu kerjanya untuk interaksi verbal dengan orang lain.
Ketrampilan memproses informasi yang dituntut dari seorang manajer
termasuk kemampuan untuk mengirim dan menerima informasi ketika bertindak
sebagai monitor, juru bicara (Spekesperson), maupun penyusun strategi.
Sudah menjadi tuntutan alam dalam posisi dan kewajiban sebagai manajer
untuk selalu dihadapkan pada konflik. Salah satu titik pening dari tugas seorang
manajer dalam melaksanakan komunikasi yang efektif didalam organisasi bisnis
yang ditanganinya adalah memastikan bahwa arti yang dimaksud dalam instruksi
yang diberikan akan sama dengan arti yang diterima olh penerima instruksi demikian
pula sebaliknya (the intended meaning of the same). Hal ini harus menjadi tujuan
seorang manejer dalam semua komunikasi yag dilakukannya.
Dalam hal me-manage bawahannya, manajer selalu dihadapkan pada
penentuan tuntuan pekerjaan dari setiap jabatan yang dipegang dan ditangani oleh
bawahannya (role expectaties) dan konflik dapat menimbulkan ketegangan yang
akan berefleksi buruk kepada sikap kerja dan perilaku individual. Manajer yang baik
akan berusaha untuk meminimasasi konsukensi negatif ini dengan cara membuka
dan mempertahankan komunikasi dua arah yang efektif kepada setiap anggota
bawahannya. Disinilah manajer dituntut untuk memenuhi sisi lain dari ketrampilan
interpersonalnya, yaitu kemampuan untuk menangani dan menyelesaikan konflik.

Manajer menghabiskan 20 persen dari waktu kerja mereka berhadapan
dengan konflik. Dalam hal ini, manajer bisa saja sebagai pihak pertama yang
langsung terlibat dalam konflik tersebut, dan bisa saja sebagai pihak pertama yang
langsung terlibat dalam konflik tersebut, dan bisa pula sebagai mediator atau pihak
ketiga, yang perannya tidak lain dari menyelesaikan konflik antar pihak lain yang
mempengaruhi organisasi bisnis maupun individual yang terlibat di dalam organisasi
bisnis yang ditanganinya.
Tulisan ini akan membahas apa yang dimaksud dengan konflik itu sendiri,
bagaimana konflik muncul dalam suatu organisasi, dan yang paling penting, caracara
untuk me-manage dan menyelesaikan konflik yang disebut juga manajemen
konflik.




B.Tujuan Penulisan

            Makalah ini dibuat dengan tujuan agar mahasiswa mengetahui,memahami,dan mampu menerapkan Konsep manajemen konfik dalam manajemen keperawatan.
Tujuan dari manajemen konflik termasuk memperluas pengertian tentang masalah,meningkatkan alternatif pemecahan,dan mencapai kesepakatan inya konfldalam keputusan yang dapat dilaksanakan serta keikhlasan terhadap persetujuan yang dibuat.Manajemen konflik menjaga meluasnya konflik,membuat kerja lebih produktif,dan dapat membuat konflik sebagai suatu kekuatan yang positif dan membangun.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi
Konflik adalah ketidak sesuaian paham antara dua anggota atau lebih yang timbul karena fakta bahwa mereka harus membagi dalam mendapatkan sumber daya yang langka atau aktivitas pekerjaan atau karena fakta bahwa mereka memiliki status – status, tujuan – tujuan,nilai – nilai, atau persepsi yang berbeda. (Menurut James,A.F stroner, dan Charles Wanker)

B.     Penyebab Terjadinnya konflik
a.       Masalah fundamental dalam sebuah organisasi (kekuatan,saran,uang dan penghargaan).
b.      Keharusan berbagai sumber daya
c.       Alasan fakta atau bukti tidak sesuai dengan sumber daya yang di dapatkan
d.      Tujuan utama organisasi tidak tercapai atau ada indikasi gagal
e.       Perbedaan nilai – nilai tujuan dan persepsi

C.    Kategori Konflik
Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel dikenal ada lima jenis konflik yaitu konflik intrapersonal, konflik interpersonal, konflik antar individu dan kelompok, konflik antar kelompok dan konflik antar organisasi
1.      Konflik Intrapersonal
Konflik intrapersonal adalah konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus.
Sebagaimana diketahui bahwa dalam diri seseorang itu biasanya terdapat hal-hal sebagai berikut:
a.       Sejumlah kebutuhan-kebutuhan dan peranan-peranan yang bersaing
b.      Beraneka macam cara yang berbeda yang mendorong peranan-peranan dan kebutuhan-kebutuhan itu terlahirkan.
c.       Banyaknya bentuk halangan-halangan yang bisa terjadi di antara dorongan dan tujuan.
d.      Terdapatnya baik aspek yang positif maupun negatif yang menghalangi tujuan-tujuan yang diinginkan.
Hal-hal di atas dalam proses adaptasi seseorang terhadap lingkungannya acapkali menimbulkan konflik. Kalau konflik dibiarkan maka akan menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan.
Ada tiga macam bentuk konflik intrapersonal yaitu :
a.       Konflik pendekatan-pendekatan, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menarik.
b.      Konflik pendekatan – penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama menyulitkan.
c.       Konflik penghindaran-penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada satu hal yang mempunyai nilai positif dan negatif sekaligus.
2.      Konflik Interpersonal
Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain.
Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi. Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut.
3.      Konflik antar individu-individu dan kelompok-kelompok
Hal ini seringkali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka. Sebagai contoh dapat dikatakan bahwa seseorang individu dapat dihukum oleh kelompok kerjanya karena ia tidak dapat mencapai norma-norma produktivitas kelompok dimana ia berada.
4.      Konflik antara kelompok dalam organisasi yang sama
Konflik ini merupakan tipe konflik yang banyak terjadi di dalam organisasi-organisasi. Konflik antar lini dan staf, pekerja dan pekerja – manajemen merupakan dua macam bidang konflik antar kelompok.
5.      Konflik antara organisasi
Contoh seperti di bidang ekonomi dimana Amerika Serikat dan negara-negara lain dianggap sebagai bentuk konflik, dan konflik ini biasanya disebut dengan persaingan.Konflik ini berdasarkan pengalaman ternyata telah menyebabkan timbulnya pengembangan produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru, harga lebih rendah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.

D.    Proses konflik
1.      Tahap I Potensi Oposisi dan Ketidakcocokan
Kondisi yang menciptakan terjadinya konflik meskipun kondisi tersebut tidak mengarah langsung ke konflik. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh :
a.       Komunikasi yg kurang baik dalam organisasi shg menimbulkan
          ketidaknyamanan antar anggota organisasi.
b.      Struktur Tuntutan pekerjaan menyebabkan ketidaknyamanan antar anggota organisasi
c.       Variabel Pribadi
Ketidaksukaan pribadi atas individu lain
2.      Tahap II Kognisi dan Personalisasi
Apabila pada tahap I muncul kondisi yang negatif, maka pada tahap ini kondisi tersebut didefinisikan, sesuai persepsi pihak yang berkonflik.
a.       Konflik yang dipersepsikan : kesadaran satu pihak atau lebih atas adanya konflik yang menciptakan peluang terjadinya konflik
b.      Konflik yang dirasakan : keterlibatan emosional saat konflik yang menciptakan kecemasan, ketegangan, frustasi, atau kekerasan.
3.      Tahap III Maksud
Keputusan u/ bertindak dgn cara tertentu
a.       Persaingan : keinginan memuaskan kepentingan seseorang, tidak mempedulikan dampak pada pihak lain dalam konflik tsb.
b.      Kolaborasi : situasi yg di dalamnya pihak2 yg berkonflik sepenuhnya saling memuaskan kepentingan semua pihak.
c.       Penghindaran : keinginan menarik diri dari konflik
d.       Akomodasi : kesediaan satu pihak dlm konflik u/ memperlakukan kepentingan pesaing di atas kepentingannya sendiri.
e.        Kompromi : satu situasi yg di dalamnya masing2 pihak yg
berkonflik bersedia mengorbankan sesuatu.
4.      Tahap IV Perilaku
Pada tahap ini konflik tampak nyata, mencakup pernyataan, tindakan dan reaksi yg dibuat pihak2 yg berkonflik.


5.      Tahap V Hasil
Pada tahap ini konflik dapat ditentukan apakah merupakan Konflik Fungsional atau Konflik Disfungsional.

Bagan Proses Konflik


 Tahap I                      Tahap II                      Tahap III                        Tahap IV             Tahap V
 Potensi Oposisi         Kognisi dan                    Maksud                            Perilaku                 Hasil
      Atau                    Personalisasi
Ketidakcocokan
Kondisi antensenden
-          Komunikasi
-          Struktur
-          Variabel pribadi 

penanganan konflik
-          Bersaing
-          Kerjasama
-          Berkompromi
-          Menghindari
-          akomodasi

Konflik yg dirasakan
Konflik terbuka
-          Perilaku pihak berkonflik
-          Reaksi orang lain
Kelompok yg di persepsikan
Kinerja kelompok menurun
Kinerja kelompok meningkat






E.     Metode penyelesaian konflik
a.       Accomodation (akomodasi)
Sikap mengikuti keinginan pihak lain dan meratakan perbedaan – perbedaab agar konflik lebih cepat selesai demi memperhatikan kerja sama.
b.      Pressing (menekan)
Sikap tidak memiliki kecenderungan pada salah satu pihak. Dengan strategi ini seorang dapat mempengaruhi pendapat atau sikap orang lain.
c.       Avoidance (menghindari)
Sikap menghindari terlebih dahulu dan kemudian masalah yang timbul di selesaikan dengan efektif pada saat setelah pihak yang terlibat menjadi tenang. Konflik yang terjadi tidak memiliki kekuatan secara sosial, ekonomi dan emosional.
d.      Konfrontasi
Pihak yang berkonflik menyatukan pandangan mereka masing – masing secara langsung kepada pihak lain.
e.       Konsensus
Pihak yang berkonflik bertemu untuk menemukan solusi
f.       Penetapan tujuan – tujuan super ordinat
Jika tujuan tingkat yang lebih tinggi di setujui semua pihak juga mencakup tujuan yang lebih rendah dari pihak yang bertentangan tidak hanya menyelesaikan konflik,tetapi juga mebantu emperluat kerja sama kelompok.


F.Peran Pimpinan dalam Penyelesaian Konflik
1.      Pemimpin perlu menganalisa jumlah dan tipe konflik yang terjadi dalam organisasi sehingga bisa fokus mengatasinya.
2.      Manajer kesehatan seharusnya mengevaluasi setiap level konflik yang terjadi dan melihat apakah organisasinya kuat dalam mengahdapi konflik.
3.      Ketika manajer terlibat konflik seharusnya berfikir eksplisit tentang sejauh mana perhatian mereka terhadap organisasi.Ini menjadi salah satu kunci untuk menentukan strategi pengelolaan konflik.
4.      Dalam negosiasi,manajer perlu menentukan dan mengidentifikasi isu yang pasti akan dinegosiasikan.
5.      Manajer seharusnya hati-hati menentukan apakah sikap dalam negosiasi telah memenuhi standar norma sebelum bernegosiasi.
6.      Manajer seharusnya tidak terlalu tertekan dalam mempersiapkan sebuah negosiasi.
7.      Jika seorang manajer melibatkan pihak ketiga dalam penanganan konflik mereka harus mengontrol proses dan hasil dari perdebatan/diskusi.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Konflik adalah ketidak sesuaian paham antara dua anggota atau lebih yang timbul karena fakta bahwa mereka harus membagi dalam mendapatkan sumber daya yang langka atau aktivitas pekerjaan atau karena fakta bahwa mereka memiliki status – status, tujuan – tujuan,nilai – nilai, atau persepsi yang berbeda
Konflik akan timbul bila terjadi ketidak harmonisan antara seseorang dalam suatu kelompok dan orang lain dari kelompok lain. Pada dasarnya konflik sesuatu yang wajar terjadi. Konflik akan selalu terjadi, karena manusia dalam suatu organisasi atau perusahaan masing-masing memiliki latar belakang keluarga dan pendidikan yang berbeda-beda. Kadang kala juga ada perbedaan kebiasaan atau pribadi yang kurang baik.


DAFTAR PUSTAKA


1.      Satrianegara M fais, & siti saleha.2009.”Buku Aajar Organisasi Dan Manajemen Pelayanan Kesehatan Serta Kebidanan”. Jakarta.salemba medika.
2.      Swanburg,Russel C.2000.”Pengantar Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan”.Jakarta:EGC
3.      Suarli,Yanyan.”Manajemen Keperawatan dengan Pendekatan Praktis”.Jakarta:Erlangga
4.      http://rinoan.staff.uns.ac.id/files/2009/06/konflik-negosiasi-v-1.pdf

Sabtu, 17 Desember 2011

Konsep Motivasi dalam Manajemen Keperawatan


Makalah
Disusun Guna Memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah : Konsep Motivasi Dalam Manajemen Keperawatan
Dosen Pengampu  : Ns.Andriyani Mustika N,S.Kep






Disusun Oleh :
Kelompok IV
1.      Siti Mursidah Ulfah     SK.109.173
2.      Siti Mutmainah            SK.109.174
3.      Suprapto AN                SK.109.186
4.      Suryadi                         SK.109.187
5.      Ulya Alifa                    SK.109.199
6.      Umi Achsaniyatul F     SK.109.200
7.      Wiwik Fitrianingsih     SK.109.210
8.      Zahra Azzuhra             SK.109.217

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KENDAL
2011






KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah. SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya serta memberikan perlindungandan kesehatan sehingga penulis dapat menyusun makalah dengan judul ”Konsep Motivasi.Dimana makalah ini sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas modul Manajemen Keperawatan I.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selama penyusunan makalah ini penulis banyak  menemui kesulitan dikarenakan keterbatasan  referensi dan keterbatasan penulis sendiri. Dengan adanya kendala dan keterbatasan yang dimiliki penulis maka penulis berusaha semaksimal mungkin untuk menyusun makalah dengan sebaik-baiknya.
Dalam kesempatan ini tidak lupa penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini, diantaranya :
1.      Ayah dan Bunda,yang senantiasa memberikan support
2.      Hj. Kunsianah, S.Pd, M.Kes sebagai Ketua STIKES Kendal
3.      Ns. Andriyani Mustika N, S.Kep sebagai koordinator dosen pengampu Modul Manajemen Keperawatan I
4.      Teman-teman kelompok IV
Sebagai manusia penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi perbaikan yang lebih baik dimasa yang akan datang.
Akhirnya semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya, Amin.



                                                                                                  Kendal, 17 Desember 2011


                                                                                                                Penyusun










BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
     Fungsi - fungsi organik dari manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, Dan pengendalian.Seorang pimpinan yang baik dituntut untuk mampu melaksanakan semua fungsi yang ada.Karena pimpinan merupakan orang yang mencapai hasil melalui oranglain,maka pimpinan tersebut harus mampu melaksanakan fungsi pengarahan,salah satu caranya yaitu dengan meningkatkan daya upaya yang merangsang tindakan.
     Daya dorong yang ada dalam diri seseorang sering disebut motif,Daya dorong diluar diri seseorang harus dapat ditimbulkan olehg pimpinan agar hal-hal diluar diri seseorang tersebut mempengaruhinya.Pada mulanya orang menganggap bahwa gaya dorong adalah “ketakutan”.Pada perkembangan selanjutnya diadakan penerapan perbaikan  cara kerja sebagai hasil penelitian.

B.Tujuan Penulisan
           Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui dan memahami  Konsep Motivasi terkait  dalam sistem Manajemen Keperawatan.







BAB II
PEMBAHASAN

A.    .Pengertian
Motivasi atau motif atau kebutuhan atau desakan atau keinginan atau dorongan adalah kata yang sering digunakan untuk menyebut kata motivasi. Adapun sebetulnya asal kata
motivasi adalah movere dari bahasa Latin yang sama dengan to move dalam bahasa
Inggris yang berarti menggerakkan atau mendorong.
Menurut George R.Terry,Motivasi adalah keinginan yang terdapat pada seorang individu yang merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan.
Tujuan Motivasi:
1.      Untuk mengubah perilaku bawahan sesuai dengan keinginan pimpinan.
2.      Meningkatkan kegairahan kerja pegawai.
3.      Meningkatkan disiplin pegawai.
4.      Meningkatkan kesejahteraan pegawai.
5.      Meningkatkan moral dan loyalitas pegawai.
6.      Meningkatkan rasa tanggungjawab pegawai pada tugas-tugasnya.
7.      Meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
B.     Teori Motivasi
          Motivsi  kerja terbagi atas dua teori dasar,yaitu sebagai berikut.
1.      Content theoris:berhubungan dengan faktor-faktor yang meningkatkan kelakuan.Jadi,content perspektif mencoba untuk menjawab pertanyaan faktor apa yang memotivasi orang?
      Teori yang mendukung:
a.       Teori hierarki Maslow
       Lima (5) kebutuhan dasar Maslow - disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting
      hingga yang tidak terlalu krusial :
1)      Kebutuhan Fisiologis
           Contohnya  : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan  
            kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain  
            sebagainya.
2)      Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh  : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.
3)      Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
4)      Kebutuhan Penghargaan
Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
5)      Kebutuhan Aktualisasi Diri
Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya.
a.       Teori ERG
Terori ERG adalah teori kepuasan dalam motivasi yang mengatakan bahwa individu mempunyai kebutuhan- kebutuhan berupa ekstensi,keterkaitan dan pertumbuhan
Ada 3 hierarki :
a)      Eksistensi
Kebutuhan yang bisa dipuaskan oleh faktor-faktor seperti makan, minuman, udara, upah, dan kondisi kerja.
b)      Keterkaitan
Kebutuhan yang bisa di puaskan oleh hubungan sosial,hubungan antar pribadi.
c)      Pertumbuhan
Kebutuhan yang bisa dipuaskan bila seseorang memberikan kontribusi yang kreatif dan produktif
b.      Teori dua faktor Hersberg
       Teori motivasi yang dikemukakan oleh Herzberg dan kelompoknya. Teori ini sering disebut dengan M – H atau teori dua faktor, bagaimana manajer dapat mengendalikan faktor-faktor yang dapat menghasilkan kepuasan kerja atau ketidakpuasan kerja. Berdasarkan penelitian telah dikemukakan dua kelompok faktor yang mempengaruhi seseorang dalam organisasi, yaitu ”motivasi”. Disebut bahwa motivasi yang sesungguhnya sebagai faktor sumber kepuasan kerja adalah prestasi, promosi, penghargaan dan tanggung jawab.
         Kelompok faktor kedua adalah ”iklim baik” dibuktikan bukan sebagai sumber kepuasan kerja justru sebagai sumber ketidakpuasan kerja. Faktor ini adalah kondisi kerja, hubungan antar pribadi, teknik pengawasan dan gaji. Perbaikan faktor ini akan mengurangi ketidakpuasan kerja, tetapi tidak akan menimbulkan dorongan kerja. Faktor ”iklim baik” tidak akan menimbulkan motivasi, tetapi tidak
c.       Teori Kebutuhan belajar
Teori yang berkaitan erat dengan konsep belajar.teori ini mengatakan bahwa melalui kehidupan dalam suatu budaya, seseorang belajar tentang kebutuhannya. 3 kebutuhan yang dipelajari;
a)      Kebutuhan berprestasi
Misalnya: menyelesaikan pekerjaan yang menantang, memenangkan kompetisi,bisa menyelesaikan masalah dengan baik.
b)      Kebutuhan menjalin hubungan atau berafiliasi
Misalnya menjalin pertemanan atau persahabatan.
c)      Kebutuhan berkuasa
Misalnya kekuasaan untuk memerintah orang lain,atau kekuasaan untuk menentukan kebijakan.
1.      Process theories:berfokus pada bagaimana (proses) tingkah laku itu ditingkatkan.Proses motivasi biasanya diawali dengan kebutuhan yang merefleksikan beberapa kekurangan sebagai individu.
Teori yang mendukung:
a.       Teori Kewajaran (Keadilan)
Adalah bahwa karyawan membandingkan usaha mereka dan imbalan yang diterimannya dengan imbalan yang diterima karyawan lainnya dalam situasi kerja yang sama.
Ada empat ukuran penting dalam teori ini:
-          Orang yaitu individu yang merasakan diperalakukan adil atau tidak adil.
-          Perbandingan dengan orang lain yaitu setiap kelompok atau orang yang digunakan oleh seseorang sebagai pembanding rasio masukan (input) atau perolehan (outcome).
-          Masukan (input) yaitu karakteristik individual yang dibawa ke pekerjaan,seperti keahlian, pengalaman,umur,jenis kelamin
-          Perolehan (outcome)  yaitu segala sesuatu yang diterima seseorang dari pekerjaan misalnya penghargaan, tunjangan upah dan lain-lain.
b.      Teori Pengharapan
Teori ini mencakup konsep-konsep dasar sebagai berikut;
-          Hasil tingkat pertama yang di peroleh dari perilaku adalah hasil yang berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan itu sendiri, misalnya produktivitas,mutu pekerjaan,tingkat kehadiran dan lain – lain.
-          Instrumentalitas  adalah kadar keyakinan seseorang bahwa hasil tingkat pertama akan menghasilkan hasil tingkat kedua.
-          Valensi adalah kekuatan keinginan seseorang untuk mencapai hasil tertentu, baik ini menyangkut hasil tingkat pertama maupun tingkat kedua.
-          Harapan berkaitan dengan keyakinan seseorang mengenai kemungkinan suatu perilaku tertentu perilaku tertentu akan diikuti oleh hasil tertentu.
c.       Teori Penguatan
Teori penguatan menyangkut ingatan orang mengenai pengalaman stimulus,respons,dan konsekuensi.
d.      Penyusunan Tujuan
Dalam teori ini sifat-sifat dalam penetapan tujuan adalah :
-          Keterincian tujuan yaitu tingkat ketetapan kuantitatif tujuan tersebut
-          Kesukaan tujuan yaitu tingkat keahlian atau tingkat prestasi yang ingin di capai.
-          Intesitas tujuan yang menyangkut proses menentukan bagaimana tujuan dapat tercapai
-          Komitmen tujuan yaitu kadar usaha yang dilakukan untuk mencapoai tujuan   
.
C.     Hubungan Motivasi Dengan Kepuasan Kerja
    Hubungan motivasi tinggi dan kepuasan kerja yang baik tercermin dari rasa tanggung jawab dan gairah kerja yang menciptakan suatu keinginan untuk bekerja dan memberikan sesuatu yang terbaik untuk pekerjaannya. Pentingnya motivasi dan kepuasan kerja menuntut pimpinan perusahaan untuk peka terhadap kepentingan karyawan. Pimpinan perusahaan melakukan pedekatan tidak hanya terhadap karyawan tetapi juga terhadap keluarga dan lingkungannya sehingga perusahaan tahu apa yang menyebabkan karyawan termotivasi dalam bekerja.
Motivasi yang tepat dan baik dapat meningkatkan dan menumbuhkan semangat kerja karyawan dan kepuasan kerja karyawan, dan akan menambah semangat kerja karyawan dalam bekerja karena dengan adanya gaji atau upah yang sesuai bagi karyawan maka dengan demikian akan tercapai kinerja karyawan yang tinggi. Jadi dapat disimpulkan bahwa motivasi dan kepuasan kerja merupakan faktor penentu dalam mencapai kinerja karyawan. Diharapkan dengan adanya motivasi dan kepuasan kerja dapat mencapai tujuan perusahaan yang diinginkan.
Banyak orang beranggapan bahwa kepuasan kerja karyawan lebih banyak ditemukan dengan tingginya tingkat upah dan aspek finansial lainnya. Hal ini merupakan anggapan yang kurang benar sebab masih banyak factor lainnya yang mempengaruhi tingkat kepuasaan kerja hal ini dibuktikan bahwa hubungan antar karyawan maupun antara pimpinan dan bawahan sangat menentukan tingkat kepuasaan kerja.
Menurut As’ad (1995: 104) pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual. Setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai-nilai yang berlaku pada dirinya. Ini disebabkan karena adanya perbedaan pada masing-masing individu. Semakin banyak aspek-aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu tersebut, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakannya, dan sebaliknya.












 BAB III
        PENUTUP       

   Motivasi merupakan keadaan internal organisme yang mendorong untuk berbuat sesuatu. Motivasi dapat dibedakan kedalam motivasi intrinsic dan ekstrinsik. Motivasi intrinsic merupakan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya untuk belajar,misalnya perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut,apakah untuk kehidupannya masa depan siswa yang bersangkutan atau untuk yang lain. Motivasi ekstrinsik merupakan keadaan yang datang dari individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar.























DAFTAR PUSTAKA


  1. Suarli S & Yayan Bahtiar.2002.Manajemen Keperawatan Dengan Pendekatan Praktis.Tasikmalaya.Erlangga. 
  2. .Swansburg Rusel C. 2000.Pengantar Kepemimpinan & Manajemen Keperawatan untuk Perawat Para Klinis.Jakarta. EGC
  3.      Garuda.Kemdiknas.go.id  
  4.    www.bmj.com